![]() |
| Foto : Kang Mamay menilai Gayo Lues memiliki peluang besar untuk mengembangkan komoditas perkebunan bernilai ekonomi tinggi. |
BEKASI | BATANEWS
Satria Kamal, putra ketiga almarhum Letjen TNI (Purn.) Solihin GP, kembali menyampaikan pandangannya mengenai potensi pengembangan komoditas pertanian, khususnya kopi dan kakao di Kabupaten Gayo Lues.
Pria yang akrab disapa Kang Mamay itu menilai Gayo Lues memiliki peluang besar untuk mengembangkan komoditas perkebunan bernilai ekonomi tinggi.
Mamay selama ini dikenal di kalangan akademisi dan pegiat kelautan sebagai sosok yang konsisten mengikuti perkembangan sektor perikanan dan kebijakan kelautan, khususnya yang menyangkut kepentingan nelayan kecil.
Namun, dalam perbincangan bersama Tgk Razak Pining di sebuah kafe di kawasan Grand Kota Bintang, Bekasi, Rabu (12/8/2026), ia turut menyoroti potensi sektor kehutanan dan perkebunan.
Dengan suasana perbincangan yang hangat dan penuh canda, Mamay mengungkapkan bahwa pengalamannya berkonsentrasi di sektor kelautan, terutama di wilayah timur Indonesia seperti Maluku, tidak membuatnya menutup perhatian terhadap potensi sektor lainnya.
Dorong Pemanfaatan Sumber Daya Laut untuk Produksi Garam di Bagian Timur Indonesia
Dalam kesempatan tersebut, Mamay juga menyinggung persoalan mahalnya harga garam di sejumlah wilayah pedalaman Papua.
Menurutnya, tingginya harga garam di daerah tertentu tidak terlepas dari biaya distribusi yang mahal serta kondisi akses transportasi darat yang sulit.
Ia pun mempertanyakan mengapa potensi sumber daya laut setempat tidak dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan garam masyarakat.
“Kenapa tidak dimanfaatkan sumber daya lautnya untuk memproduksi garam. Dengan teknologi zaman sekarang, ini cukup gampang direalisasikan, daripada harus repot-repot lagi, apalagi harus didatangkan dari luar,” ungkap Mamay.
Menurutnya, pemanfaatan sumber daya lokal bukan hanya dapat menekan biaya distribusi, tetapi juga berpotensi menciptakan aktivitas ekonomi baru bagi masyarakat.
Gayo Lues Dinilai Punya Potensi Besar untuk Kopi Arabika
Beranjak ke sektor perkebunan, perhatian Mamay tertuju pada Kabupaten Gayo Lues.
Ia menilai karakteristik geografis dataran tinggi Gayo Lues memiliki modal penting untuk pengembangan kopi Arabika berkualitas.
“Ketinggian dan iklimnya sangat cocok untuk varietas kopi Arabika unggul,” ujarnya.
Mamay juga menyatakan dukungannya terhadap program pengembangan kopi dan kakao di Gayo Lues, dengan catatan pengelolaannya dilakukan secara serius, terarah, dan berkelanjutan.
Ia bahkan membuka peluang untuk membantu pengembangan akses pasar hingga jalur ekspor.
“Kalau dikelola dengan baik, kita juga siap bantu ke depannya untuk jalur ekspor,” kata Mamay.
Pernyataan tersebut membuka peluang adanya kolaborasi antara pelaku usaha, masyarakat, pemerintah daerah, serta jaringan perdagangan untuk mendorong komoditas perkebunan Gayo Lues agar memiliki pasar yang lebih luas.
Memiliki Ikatan Historis dengan Gayo Lues
Nama Satria Kamal juga tidak dapat dilepaskan dari sosok ayahnya, almarhum Letjen TNI (Purn.) Solihin GP, yang dikenal memiliki hubungan historis dengan masyarakat Gayo Lues.
Saat proses pemekaran Gayo Lues menjadi kabupaten pada 2001, Solihin GP disebut banyak membantu dan melakukan komunikasi dengan sejumlah pejabat di tingkat pusat.
Salah satu yang disebut memiliki hubungan dengan perjuangan tersebut adalah Menteri Dalam Negeri saat itu, Hari Sabarno, yang pernah menjadi taruna Akademi Militer ketika Solihin GP menjabat Gubernur Akademi Militer di Magelang.
Atas perhatian dan kontribusinya terhadap Gayo Lues, masyarakat kemudian memberikan gelar kehormatan kepada Solihin GP sebagai salah seorang putra Gayo Lues dengan sebutan Pang Musidik Sasat.
Hubungan tersebut juga terlihat ketika Solihin GP hadir di Gayo Lues pada 2005 bersama anak angkatnya, Tgk Razak Pining, dalam sebuah kegiatan tawar negeri. Kehadirannya ketika itu disebut mendapat sambutan hangat dan antusias dari masyarakat.
Mamay: Insyaallah Akan Pulang ke Gayo Lues
Ketika ditanya kapan dirinya akan berkunjung langsung ke Gayo Lues, Mamay hanya tersenyum.
“Insyaallah, di lain waktu akan dijadwalkan ke sana,” tuturnya singkat.
Kehadiran Mamay ke Gayo Lues tentu dinantikan, terlebih dengan gagasan yang disampaikannya mengenai pengembangan kopi dan kakao serta peluang membuka akses pasar ekspor.
Bagi Gayo Lues, pengembangan komoditas perkebunan bukan sekadar persoalan produksi. Penguatan kualitas, tata kelola, hilirisasi, hingga akses pasar menjadi bagian penting agar kopi dan kakao mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat.
Dengan potensi alam yang dimiliki, Gayo Lues memiliki peluang untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu daerah penghasil komoditas perkebunan unggulan dari dataran tinggi Aceh.[JH]


