BATANEWS, BANDA ACEH — Raja Peureulak Ke-XXXVII, YM. Dr. Teuku Muhammad Nurdin, S.H.I., M.E.I. (Tgk. Popon), menyatakan dukungan penuh terhadap perjuangan rakyat Aceh dalam menjaga perdamaian serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat Aceh.
Menurutnya, perdamaian di Aceh harus terus dirawat dengan mengedepankan aspirasi dan keinginan rakyat. Kedamaian tidak boleh disertai polemik, ketidakadilan, maupun tindakan yang dapat menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
“Tidak ada masyarakat Aceh yang menginginkan konflik. Semua menginginkan perdamaian, keamanan dan kesejahteraan. Karena itu, jika kedamaian Aceh ingin terus terawat, maka butir-butir MoU Helsinki harus direalisasikan secara sungguh-sungguh,” tegas Raja Peureulak.
Menanggapi persoalan pengibaran bendera di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Tgk. Popon berpandangan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari aspirasi dan simbol perjuangan rakyat Aceh yang perlu dilihat dalam konteks perjalanan perdamaian Aceh.
“Kalau ditanya pendapat saya tentang kenaikan bendera di Aceh, seharusnya bendera tersebut dinaikkan karena itu merupakan bagian dari kesepakatan dan semangat perdamaian yang lahir dari MoU Helsinki 15 Agustus 2005,” ujar Tgk. Popon usai mengikuti zikir dan doa bersama di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.
Ia menegaskan, seluruh pihak perlu mengedepankan dialog, menghormati aspirasi rakyat, serta menjalankan komitmen perdamaian secara adil dan bermartabat.
“Jangan ada kezaliman dan jangan ada pihak yang sengaja mencari sensasi dengan memprovokasi masyarakat. Mari kita jaga Aceh tetap damai dengan menghormati aspirasi rakyat serta menjalankan komitmen perdamaian secara konsisten,” katanya.
Raja Peureulak juga mengajak seluruh elemen masyarakat, Pemerintah Aceh, Pemerintah Pusat, serta para pemangku kepentingan untuk bersama-sama menjaga perdamaian Aceh agar tetap kokoh.
Menurutnya, perdamaian bukan sekadar berhentinya konflik, tetapi harus menjadi fondasi bagi terwujudnya keadilan, kesejahteraan, dan pembangunan Aceh yang berkelanjutan.
“Perdamaian Aceh adalah milik seluruh rakyat Aceh. Karena itu, mari kita rawat bersama dengan saling menghormati, menghindari provokasi dan memastikan komitmen perdamaian benar-benar diwujudkan,” pungkasnya.(Fsl)

