Langsa, 25 Juni 2026 – Pendiri Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Bungoeng Lam Jaroe, Zulfadli, menyoroti mentalitas sebagian pejabat publik yang dinilainya lebih sering mengeluh daripada menunjukkan kinerja nyata dalam menjalankan amanah jabatan.
Kritik tersebut disampaikan Zulfadli melalui sebuah narasi reflektif yang belakangan ramai diperbincangkan di kalangan pegiat sosial. Dalam pernyataannya, ia menggambarkan fenomena yang menurutnya kerap terjadi di lingkungan birokrasi, yakni keluhan para pejabat terkait keterbatasan anggaran dan meningkatnya pengawasan publik.
"Susah sekali menjadi pejabat zaman sekarang. Anggaran dikurangi di sana-sini, setiap langkah dipantau LSM dan media," ujar Zulfadli, menirukan keluhan yang menurutnya sering ia dengar dari sejumlah pejabat.
Menurut Zulfadli, keluhan tersebut menjadi kontradiktif ketika disampaikan oleh pihak yang tetap berkeinginan mencalonkan diri kembali pada periode berikutnya.
"Apakah hanya dengan duduk di kursi itu angka kemiskinan akan turun sendiri? Apakah kemakmuran akan datang dengan sendirinya karena kalian memegang jabatan?" tulisnya.
Ia menilai jabatan publik seharusnya dipahami sebagai amanah untuk melayani masyarakat, bukan sekadar sarana mencari pekerjaan atau mempertahankan kedudukan..
"Sebenarnya, kalian datang ke sini hanya untuk mencari pekerjaan, dan cara mendapatkan posisi itu adalah dengan menjual nama rakyat," tegasnya.
Dalam narasi tersebut, Zulfadli juga menyinggung pentingnya integritas moral, nilai-nilai agama, serta komitmen terhadap konstitusi dalam menjalankan pemerintahan.
"Ingatlah, jika bukan hukum Allah yang dipegang, semuanya hanya kebohongan semata. Lihatlah kenyataannya, Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 pun sering kali kalian sisihkan," ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengkritik sikap sebagian pemimpin yang dinilainya lebih takut terhadap teguran atasan dibandingkan pertanggungjawaban moral dan spiritual.
"Kita lebih mengandalkan hukum buatan manusia yang bisa diubah-ubah sesuka hati. Lihatlah para pemimpin kita, mereka lebih takut pada teguran atasan daripada takut kepada Tuhan Yang Maha Melihat," katanya.
Menanggapi klaim sejumlah pejabat yang menganggap diri mereka sebagai "orang baik", Zulfadli turut melontarkan pertanyaan retoris sebagai bentuk kritik terhadap praktik kekuasaan yang menurutnya jauh dari nilai kejujuran dan pengabdian.
Di akhir pernyataannya, Zulfadli mengingatkan bahwa jabatan bukanlah tempat untuk mencari keuntungan pribadi, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
"Jabatan sejatinya bukanlah tempat untuk mencari keuntungan pribadi, melainkan amanah berat yang kelak akan dipertanggungjawabkan, bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Sang Pencipta Alam Semesta," pungkasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, tim media belum memperoleh konfirmasi maupun tanggapan dari pihak pejabat atau institusi yang diduga menjadi sasaran kritik dalam narasi tersebut. Redaksi membuka ruang hak jawab seluas-luasnya kepada pihak terkait guna menjaga prinsip keberimbangan informasi. (Fsl)



