BataNews

Berita Akurat Terpercaya Anti Hoaxs News

  • Jelajahi

    Copyright © BataNews
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Atas

    Recent in Sports

    Recent in Sports

    Terkini

    Cambuk Cemeti Bukan Senjata untuk Melampiaskan Emosi, Jangan Sampai Pusaka Menelanjangi Dirimu

    Faisal
    Selasa, 19 Mei 2026, Mei 19, 2026 WIB Last Updated 2026-05-19T03:42:58Z
    Pengunjung: 1025
    BATANEWS. 
    Kota Langsa — Pesan moral Semar kembali menggema dalam pagelaran wayang kulit yang berlangsung di Pendopo Taman Budaya kebanggaan masyarakat. Lewat gaya khasnya yang sederhana namun sarat makna, Semar mengingatkan para punakawan dan penonton agar bijak dalam menggunakan pusaka cambuk cemeti.

    Menurut Semar, cambuk cemeti bukan sekadar alat untuk menyerang atau menjatuhkan lawan tanpa dasar dan alasan yang jelas. Pusaka tersebut memiliki makna mendalam tentang tanggung jawab dan pengendalian diri.
    “Cambuk cemeti itu bukanlah senjata untuk meruntuhkan lawan tanpa dasar hukum atau konteks yang akurat,” celetuk Semar dengan logat khasnya, disambut tepuk tangan para penonton.

    Dalam petuahnya, Semar menjelaskan bahwa setiap manusia yang lahir ke dunia memiliki tugas dan fungsi sosial masing-masing. Di tengah derasnya arus globalisasi, manusia dituntut lebih peka dalam menjalankan perannya di tengah masyarakat. Namun ia mengingatkan, kekuatan apa pun akan menjadi berbahaya apabila digunakan dengan emosi yang tidak terkendali.

    “Dikarenakan kekuatan cambuk cemeti mu hanya sekadar permainan anak kecil di zaman dahulu kala. Tapi kalau kamu pintar dalam memainkannya, maka cemeti itu akan menjadikan kamu beruntung di setiap langkahmu,” ujar Semar.

    Bagi para dalang dan pegiat budaya, pesan tersebut dimaknai sebagai sindiran halus agar generasi muda tidak menyalahgunakan kekuatan, ilmu, maupun pengaruh yang dimiliki. Cambuk cemeti disimbolkan sebagai segala bentuk kekuasaan, kemampuan, ataupun senjata yang dapat merusak apabila tidak dibarengi dengan kebijaksanaan dan kendali diri.

    Pagelaran malam itu kembali membuktikan bahwa cerita rakyat melalui wayang kulit masih relevan hingga saat ini. Di balik celetukan jenaka, Semar menyisipkan ajaran tentang pengendalian diri, tanggung jawab sosial, serta pentingnya kebijaksanaan dalam bertindak.

    Catatan: Tulisan ini merupakan cerita rakyat yang bertujuan mengingatkan kembali nilai-nilai luhur budaya Jawa. Selasa, 19 Mei 2026. 
    Komentar

    Tampilkan