BataNews

Berita Akurat Terpercaya Anti Hoaxs News

  • Jelajahi

    Copyright © BataNews
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Atas

    @BATA-News

    Recent in Sports

    Recent in Sports

    Iklan

    Terkini

    Mandat di Kolom Terakhir: Cerita Maksum Malau Saat Menjadi Perwakilan Pemuda Pendiri Aceh Singkil

    Rahman Pohan
    Sabtu, 24 Januari 2026, Januari 24, 2026 WIB Last Updated 2026-01-24T12:26:02Z
    Pengunjung: 1025
    Foto : Maksum Malau, seorang pemuda salah satu ujung tombak penggalangan dukungan di wilayah Simpang Kanan.


    ACEH SINGKIL | BATANEWS 

    Sejarah terbentuknya Kabupaten Aceh Singkil bukan semata hasil proses birokrasi di atas meja. Ia lahir dari militansi, keberanian, dan gerak cepat para tokoh serta pemuda di lapangan.  


    Dibalik pengesahan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1999, terselip kisah Maksum Malau, seorang pemuda yang kala itu menjadi salah satu ujung tombak penggalangan dukungan di wilayah Simpang Kanan.


    Pada masa perjuangan menuju pembentukan Daerah Otonom Baru (DOB), Simpang Kanan memiliki posisi strategis sebagai wilayah induk. Maksum Malau mengenang bagaimana dirinya terlibat aktif dalam berbagai pergerakan, di bawah arahan langsung Makmur Syah Putra, tokoh sentral perjuangan yang kemudian tercatat sebagai Penjabat (Pj) Bupati pertama Aceh Singkil.


    “Pak Makmur sering menginstruksikan saya untuk mendatangi rumah tokoh-tokoh masyarakat guna melakukan koordinasi penting. Saat itu pergerakan kami sangat dinamis,” kenang Maksum.


    Ia menyebutkan, titik-titik konsolidasi perjuangan berlangsung secara estafet, mulai dari Losmen Murni milik Tatak Leman, rumah Haji Usman Bancin, hingga kediaman Haji Wahidin di Rimo. Tempat-tempat tersebut menjadi saksi bisu diskusi dan strategi menuju terbentuknya Aceh Singkil sebagai daerah otonom.


    Salah satu momen paling krusial dalam ingatan Maksum adalah ketika ia diberi mandat untuk mengumpulkan tanda tangan dukungan dari para kepala desa dan tokoh masyarakat di wilayah Simpang Kanan, yang saat itu cakupannya masih sangat luas. Dokumen proposal yang ia bawa menjadi penentu masa depan daerah.


    “Pak Makmur identik dengan mobil Feroza birunya. Beliau memerintahkan saya mengawal dokumen itu. Selama beberapa hari, dokumen tersebut saya pegang dan bahkan saya bawa pulang ke rumah demi memastikan semua tokoh menandatanganinya,” tuturnya.


    Namun, sebuah fragmen emosional terjadi saat dokumen tersebut hendak diserahkan kembali kepada Makmur Syah Putra di hadapan Haji Usman Bancin. Setelah diperiksa satu per satu, ternyata masih ada satu kolom tanda tangan yang kosong—kolom keterwakilan pemuda.


    Tanpa ragu, Makmur Syah Putra langsung memerintahkan Maksum untuk mengisi kolom tersebut. Maksum sempat menolak, merasa dirinya belum pantas. Namun, ketegasan sang tokoh tak memberi ruang untuk mundur.


    “Beliau berkata, ‘Jangan banyak cerita lagi, terus teken (tanda tangan)! Sebab kamu adalah pemuda, dan kamu punya peran untuk perjuangan selama ini,’” ujar Maksum menirukan ucapan Makmur Syah Putra.


    Usai tanda tangan dibubuhkan, Makmur Syah Putra melafalkan doa yang hingga kini masih terngiang di benak Maksum. Ia berharap perjuangan tersebut berbuah kemajuan daerah dan melahirkan pemimpin dari putra daerah sendiri.


    Ironisnya, peran penting tersebut tak menyisakan bukti fisik yang dapat disimpan Maksum secara pribadi. Keterbatasan teknologi pada masa itu menjadi kendala besar dalam pengarsipan.


    “Dulu belum ada mesin fotokopi, kamera juga hanya segelintir orang yang punya, apalagi ponsel pintar. Jadi tidak ada salinan yang bisa saya simpan,” ujarnya lirih.


    Kini, lebih dari dua dekade sejak Aceh Singkil berdiri sebagai kabupaten mandiri, kisah Maksum Malau menjadi pengingat bahwa peran pemuda adalah pilar penting dalam perubahan besar.  


    Tandatangannya di kolom terakhir bukan sekadar tinta di atas kertas, melainkan simbol dedikasi seorang anak muda yang rela menjadi jembatan sejarah demi masa depan tanah kelahirannya.


    ✍️ [RHM]

    Komentar

    Tampilkan