![]() |
| Foto : Razaliardi Manik |
ACEH SINGKIL | BATANEWS
Oleh: Razaliardi Manik
Bung Karno, Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia, dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi pernah mengingatkan dengan kalimat yang kuat: “Jangan sekali-kali melupakan sejarah.” Pesan inilah yang menjadi pijakan refleksi tentang perjalanan panjang PT Socfin Indonesia di tanah Singkil.
Tulisan ini bukan pembelaan, bukan pula penyangkalan atas kritik yang berkembang. Kritik adalah bagian dari dinamika zaman. Namun sejarah pun memiliki ruangnya sendiri untuk dikenang secara jernih dan adil.
Saya lahir pada 2 Agustus 1962 di Rimo, sekitar 200 meter dari Pabrik Kelapa Sawit PT Socfindo saat ini. Saya tumbuh di masa penuh keterbatasan—ketika kehidupan masyarakat sangat bergantung pada sawah dan hasil tangkapan ikan.
Kala itu dikenal istilah “musim melehe”—musim lapar. Masa ketika padi belum panen dan dapur rakyat nyaris tanpa kepastian. Kemiskinan bukan sekadar cerita, melainkan kenyataan sehari-hari. Tidak ada bantuan sosial, tidak ada subsidi pupuk, tidak ada BPJS, PKH, maupun BLT. Negara masih berjuang menata diri di tengah pergolakan pascakemerdekaan.
Dalam konteks itulah, kehadiran PT Socfindo—yang telah berdiri sejak sekitar 1938—menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga. Perusahaan membuka lapangan kerja, memberi penghasilan tetap, menyediakan “beras catu” bagi pekerja, dan memungkinkan anak-anak buruh mengenyam pendidikan.
Saya tidak sedang menyajikan angka statistik. Ini adalah kesaksian seorang anak kampung yang tumbuh di tengah denyut kehidupan perkebunan. Banyak kawan seangkatan merasakan hal serupa—bagaimana perusahaan itu menjadi tumpuan nafkah orang tua kami.
Apakah berlebihan jika saya menyebutnya “malaikat” pada masanya? Mungkin terdengar hiperbolik. Namun bagi masyarakat yang hidup dalam keterbatasan, pekerjaan tetap dan penghasilan rutin adalah cahaya harapan.
Zaman telah berubah. Regulasi makin ketat, kesadaran lingkungan meningkat, dan masyarakat semakin kritis. Itu adalah kemajuan. Namun dalam arus kritik dan tuntutan perubahan, kita juga perlu menjaga ingatan kolektif—bahwa sejarah memiliki lapisan makna.
“Jas Merah” bukan sekadar slogan. Ia adalah pengingat agar kita tidak melawan lupa. Bahwa di balik dinamika hari ini, pernah ada masa ketika sebuah perusahaan menjadi sandaran hidup ribuan keluarga di Singkil.
Sejarah bukan untuk memutihkan yang kelam, bukan pula menghitamkan yang terang. Sejarah adalah cermin—agar kita menilai masa lalu dengan adil dan melangkah ke depan dengan bijak.
✍️ [RHM]




